New York – Rasa gembira yang muncul ketika bangun tidur,
perlahan mulai surut seiring padatnya aktivitas. Tapi tidak ada yang
menyangka, kondisi ini dapat dipantau hanya dari kegiatan twitter.
Sebuah
studi dilakukan ilmuwan sosial dari Cornell University, mengenai sikap
2,4 juta pengguna situs blog mikro Twitter di 84 negara selama dua tahun
terakhir. Hasilnya adalah,
siklus emosi dipengaruhi oleh pekerjaan,
tidur dan jumlah hari yang dilalui seseorang.
Dua puncak emosi
sehari-hari yang dicatat oleh Twitter, terjadi saat pagi hari dan
mendekati tengah malam. Menurut ilmuwan, hal ini mengindikasikan stress
terkait pekerjaan berperan besar dalam membentuk mood.
“Tak banyak
sosiolog yang melihat internet sebagai sumber data sains sosial. Tapi
menurut saya, internet itu tempat sains sosial bermain,” ujar salah satu
peneliti, Scott Golder.
Golder menyatakan, selama beberapa
generasi para ilmuwan berusaha mencari tahu bagaimana keseluruhan sistem
masyarakat bekerja atau seperti apa pola hubungan antara manusia.
“Dalam
skala besar, hal itu sulit diketahui. Terbukti, amat sulit itu dicari
tahu. Hingga internet tiba,” lanjut Golder mengenai hasil studi yang
dipublikasikan di jurnal Science pada 29 September lalu.
Dengan
melacak Twitter menggunakan piranti lunak yang memonitor bahasa, Golder
dan ilmuwan lain yang juga meneliti hal ini, Dosen Sosiologi Michael
Macy, melakukan observasi mereka terhadap tweeps di seluruh dunia.
Banyak
tweet positif pada akhir pekan dan dimulai tertunda dua jam
dibandingkan hari biasa. Hal ini menandakan pengguna tidur lebih lama
ketimbang hari biasa. Tweet positif itu memuncak sejak pagi hari di akhir pekan.
Apa
yang dilakukan pengguna Twitter sama saja, meski definisi akhir pekan
berbeda. Misalnya di Arab, dimana hari kerja berlangsung pada
Minggu-Kamis, menjadikan Jumat dan Sabtu sebagai hari libur atau akhir
pekan mereka.
Sebanyak 509 juta tweet digunakan untuk studi ini, ditandai sesuai waktu real time
dan jenis positif atau negatif. Sehingga, bisa digunakan sebagai bahan
studi yang lebih akurat ketimbang wawancara langsung yang tidak real time.
“Kami
melihat ritme harian yang sama selama tujuh hari, menandakan sesuatu
yang fundamental sedang berlangsung. Bahwa kita semua manusia yang
mendapatkan beban psikologis sama,” kanjut Golder.
Dosen Psikologi
University of California Sonja Lyubomirsky mengatakan, studi inovatif
untuk memonitor mood orang ini sampai di pertanyaan yang takkan terjawab
dengan menjadi follower jutaan orang.
Meski Twitter
menyatakan terdapat 175 juta akun pengguna, lanjut Lyubomirsky, jumlah
itu masih mewakili sebagian kecil dunia. Serta bukan sampel dari orang
dewasa. “Tapi cukup deskriptif dan merupakan metodologi baru yang baik,”
ujarnya.
Kedua pihak sepakat, meski internet telah menjadi mainstream besar, masih ada sekelompok besar masyarakat yang belum menggunakannya. Mereka hanya mengukur dari tweet sejumlah orang yang harus diakui, kadang terlalu bawel.
Categories:
did you know?..